DOSEN Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS Sarwoto mengatakan bahwa ada dua syarat utama yang menyebabkan UMKM dapat bertahan dalam masa krisis seperti tahun 1998 dan 2008. Dua syarat tersebut ialah supply dan demand yang tersedia.
“UMKM dapat bertahan dengan syarat demand dan supply yang terjaga. Apa pun kondisinya asalkan demand dan supply terjaga, UMKM akan baik-baik saja,” ungkapnya dalam FGD Pusat Akuntabilitas Keuangan Negara Setjen DPR RI, Selasa (16/2). Lebih lanjut, Sarwoto menambahkan bahwa kedua syarat tersebut membuat UMKM selama ini terbukti selalu menjadi idola dalam masa sulit atau krisis.
“Seperti saat krisis 1998, di saat perusahaan besar gulung tikar, UMKM ini malah melakukan rekruitment besar-besaran. Karena ketika krisis 1998 kurs dolar menguat, berarti kan nilai jual produk murah dan permintaan terhadap produk UMKM tinggi,” kata Sarwoto.
Sementara itu, pada saat krisis finansial global tahun 2008 yang di awali hancurnya properti di Amerika dan runtuhnya Lehman Brother di Amerika atau Bank paling top Amerika telah berdampak pada krisis di sektor riil dan UMKM masih bertahan dan tidak gentar menghadapi krisis ini.
“Karena UMKM kita pakai sumber daya lokal dan pasarnya mayoritas lokal,” ujarnya
Kondisi pandemi covid-19 yang juga merupakan tentu menjadi hal yang berbeda. Menurut Sarwoto, saat ini daya tahan UMKM sedang diuji dan untuk menghadapi pandemi berbagai hal dilakukan oleh UMKM.”Karakteristik UMKM yang sangat fleksibel membuktikan ketahanan mereka akan krisis.
Fleksibilitas UMKM itu melebihi perusahaan besar. Tapi dalam menghadapi pandemi ini berbeda, sehingga saya menyimpulkan bahwa UMKM dapat bertahan dengan syarat demand dan supply yang terjaga,” pungkas Sarwoto. (OL-3)