Periode peralihan musim hujan ke kemarau memicu terjadinya cuaca panas di Bali. Hampir mayoritas, masyarakat Bali merasakan suhu panas dan gerah, khususnya saat siang hari.
Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, kondisi ini bisa disebabkan peralihan musim, posisi semu matahari, dan pertumbuhan awan yang berkurang.
Bahkan dari keterangan BMKG, kondisi cuaca panas di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Bali akan berlangsung hingga akhir Mei 2022 mendatang.
Panjangnya masa peralihan musim (pancaroba) ini selain memicu dehidrasi, Dinas Kesehatan Tabanan menengarai suhu panas di Bali juga bisa memicu terjadinya risiko penyakit.
Seperti disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Tabanan, dr I Nyoman Susila.
Kepada detikbali, Susila meminta agar masyarakat, khususnya krama Bali dan Tabanan untuk selalu menjaga stamina tubuh.
Salah satu caranya yang paling mudah adalah dengan mencukupi asupan cairan tubuh dengan minum air secukupnya untuk menghindari dehidrasi.
“Cara paling sederhana, cukupkan minum agar tidak dehidrasi,” kata dr I Nyoman Susila, Jumat (13/5/2022).
Ia menjelaskan, secara umum dehidrasi akan berakibat pada menurunnya stamina yang ujung-ujung akan berkaitan dengan imunitas tubuh terhadap beberapa penyakit.
Seperti demam, termasuk demam berdarah dan Chikungunya.
“Penyakit apapun mudah menjangkit kalau kondisi kesehatan tubuh lagi menurun,” jelasnya.
Di samping itu, peralihan musim juga membuat kemunculan vektor penyebab penyakit seperti nyamuk dan lalat.
“Tipus misalnya. Itu bisa saja terjadi kalau makanan dihinggapi lalat yang membawab bakteri. Di samping tipus juga disebabkan oleh pengolahan makanan yang tidak higienis,” imbuhnya.
Selain mencukupi tubuh dengan minum air yang cukup, ada baiknya juga untuk menghindari terik matahari secara langsung.
Meski begitu, asupan cairan yang cukup ini hanya berlaku kepada mereka yang kesehatannya normal.
Bagi penderita masalah ginjal dan jantung, asupan cairan bagi tubuh perlu disesuaikan dengan takaran yang dianjurkan oleh dokter.
“Kalau yang kondisi kesehatannya normal, kelebihan cairan akan dibuang melalui ginjal. Tetapi mereka yang punya masalah pada ginjal dan jantung harus cermat. Itu ada takarannya. Yang mengetahuinya adalah dokter spesialis. Ini biasanya akan diingatkan saat pemeriksaan kesehatan rutin,” pungkasnya.
Sumber : detikcom