Social rejection terjadi ketika seseorang mengalami penolakan dalam lingkungan sosial. Cara mengatasinya bisa dengan mengidentifikasi apa yang jadi pemicunya, mengasah keterampilan sosial, hingga berkonsultasi dengan asli kesehatan mental.
Dampak social rejection terhadap kesehatan Penolakan sosial bisa memengaruhi kesehatan seseorang. Pengaruh negatif yang diberikan tidak hanya terjadi secara fisik, melainkan juga psikologis. Sama seperti jenis penolakan lain, berikut ini beberapa efek samping social rejection terhadap kesehatan:
- Trauma Penolakan yang terjadi dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah psikologis serius dan memicu trauma. Sebagai contoh, anak yang ditolak dan menjadi korban bullying teman-temannya di sekolah berpotensi mengalami penurunan prestasi. Selain itu, korban juga akan kesulitan bergaul dengan orang lain karena memiliki ketakutan untuk kembali dirundung.
- Depresi Beberapa jenis penolakan, termasuk social rejection, dapat mengembangkan depresi pada korbannya. Misal, ketika menjadi korban perundungan, efeknya bisa berupa stres, depresi, gangguan makan, hingga melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri. Bullying sendiri merupakan kombinasi dari pengucilan dan penolakan.
- Stres dan kecemasan Ketika menjadi korban social rejection, risiko Anda mengalami stres dan kecemasan semakin meningkat. Jika sudah berkembang dalam waktu yang lama, kedua kondisi kesehatan mental ini dapat memperburuk perasaan penolakan.
- Sakit secara fisik Social rejection tidak hanya dapat memicu rasa sakit secara psikologis, melainkan juga fisik. Penolakan sosial yang berlangsung secara berulang bisa menyebabkan trauma. Trauma ini kemudian dapat berpengaruh terhadap kesehatan fisik secara keseluruhan. Selain itu, stres yang terjadi akibat penolakan sosial juga dapat menurunkan kinerja sistem kekebalan tubuh Anda.
Hasilnya, Anda pun akan menjadi lebih rentan terinfeksi bakteri dan virus penyebab penyakit. Social rejection juga beri pengaruh terhadap cara menjalani kehidupan Tak hanya berdampak buruk terhadap kesehatan, penolakan sosial juga dapat memengaruhi cara Anda dalam menjalani kehidupan. Penolakan dan pengucilan dapat memicu munculnya perasaan frustasi, ketidakpercayaan terhadap orang lain, dan meragukan diri sendiri. Selain itu, Anda juga akan merasakan ketidakberdayaan dan kewaspadaan yang berlebihan. Kondisi-kondisi tersebut berpotensi mengganggu produktivitas dan hubungan Anda dengan orang lain.
Bagaimana cara mengatasi penolakan sosial?
Ketika menjadi korban penolakan sosial, Anda tidak boleh berdiam diri. Apabila hanya diam dan tidak melakukan perubahan, kondisi tersebut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan serta kehidupan Anda. Berikut ini beberapa tindakan yang bisa Anda lakukan ketika menjadi korban social rejection:
- Belajar mengidentifikasi penyebabnya Saat jadi korban social rejection, belajarlah untuk mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab penolakan. Apakah Anda melakukan kesalahan sehingga berujung pada penolakan? Jika iya, mengubah perilaku buruk yang menjadi pemicu penolakan perlu untuk dilakukan agar semuanya menjadi lebih baik lagi ke depan.
- Pengembangan keterampilan sosial Social rejection seringkali terjadi karena Anda mempunyai keterampilan sosial yang buruk. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk belajar mengenai isyarat sosial seperti menjadi pendengar reflektif yang baik, tidak melakukan tindakan yang tak diinginkan secara sosial, serta berhenti berbagi informasi pribadi secara berlebihan.
- Berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental Ketika penolakan sosial mulai memberikan pengaruh buruk terhadap kehidupan Anda serta memicu perasaan depresi, segera berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental. Nantinya, psikolog atau psikiater akan membantu menghilangkan rasa sakit psikologis yang terjadi akibat social rejection. Selain menghilangkan rasa sakit psikologis, Anda juga akan diajarkan cara menghadapi penolakan dengan tepat sehingga efek yang ditimbulkan akibat penolakan sosial dapat dikurangi.