Perkembangan dunia arsitektur di Bali selama dua dekade terakhir kian mengarah dinamis seiring dengan kemajuan teknologi informasi serta akulturasi budaya. Meski telah banyak gaya arsitektur yang berkembang namun style bangunan khas tradisional Bali masih tetap diminati. Hal ini terbukti dari keberadaan sang undagi atau pakar arsitektur Bali yang masih dibutuhkan hingga saat ini. Salah satunya yang masih eksis berkarya yakni I Wayan Setiyem yang telah menghasilkan puluhan masterpiece bangunan Bali hingga karyanya menembus keluar daerah.
Pahat dan palu adalah dua senjata andalan bagi sosok seniman ukir asal Br. Selat Peken, Desa Susut, Kecamatan Susut, Bangli ini. I Wayan Setiyem namanya, sudah melanglang bhuana dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya untuk membantu masyarakat mewujudkan bangunan parahyangan maupun tempat tinggal. Kedua tangan dinginnya mampu menghasilkan berbagai karya arsitektur sarat akan ornamen Bali yang rumit dan bernilai seni tinggi. Tak jarang ia pun memenuhi permintaan klien yang datang dari luar daerah karena terkenal mampu menghasilkan karya seni arsitektur nan bertaksu.
Walaupun dikenal piawai dalam menghasilkan karya bangunan tradisional Bali, Wayan Setiyem ternyata menumbuhkan bakat tersebut dari pengalaman praktek langsung di dunia kerja. Ia sama sekali tidak belajar teknik arsitektur secara formal, semua kemampuan dalam merancang bangun, mengukur hingga menempa material menjadi seni ukiran yang indah didapat dari proses pengamatan di lapangan.
“Setelah lulus sekolah di tahun 1970, saya langsung diajak bekerja oleh seorang pemborong (kontraktor, red) di Tejakula untuk mengerjakan pekerjaan mengukir dan mematung,” ungkap pria kelahiran 14 April 1956 tersebut.
Dari Desa Sembiran, Desa Pacung hingga ke desa-desa lain yang ada di perbatasan antara Kabupaten Buleleng dan Karangasem, ia mengerjakan pesanan ukiran untuk pembuatan patung bersama dengan orang yang telah dianggap sebagai guru. Upah yang diterima mulai dari Rp 500,- per hari dan setelah tujuh tahun bekerja meningkat menjadi Rp 1.000,- per hari. Kemudian ia mulai memberanikan diri untuk menerima proyek borongan untuk pembuatan sebuah bale Bali di Karangasem. Di situlah momen pertama kalinya Wayan Setiyem memulai langkah sebagai kontraktor perseorangan.
Setelah kesuksesan proyek di Karangasem, namanya kian dikenal masyarakat sebagai sang undagi dengan hasil karya memuaskan. Memang sebagai seorang yang memiliki darah seni dari leluhur, Wayan Setiyem senantiasa mengutamakan kualitas hasil akhir. Integritas dalam bekarya itu lalu didengar oleh seorang tokoh masyarakat yang berada di luar daerah. Dari situ, pertama kalinya Wayan Setiyem naik pesawat untuk melaksanakan proyek Kota Ujung Pandang (sekarang Makasar).
Sepulang dari menyelesaikan proyek di Sulawesi Selatan, Wayan Setiyem semakin kewalahan dalam memenuhi permintaan. Demi meningkatkan rasa kepercayaan berbagai pihak yang mengajak kerja sama ia kemudian mendaftarkan legalitas usaha dengan mengibarkan bendera CV. Setya Karya Utama. Klien-kliennya tidak hanya datang dari perorangan melainkan juga instansi pemerintah, swasta maupun kelompok masyarakat adat.
Ada pun karya yang telah dihasilkan serta dinikmati oleh umat Hindu di Bali yaitu Candi Bentar yang berlokasi di Pura Batur, dikerjakan pada tahun 1985. Setelah itu sempat menggarap konstruksi pura-pura lainnya termasuk Pura Dalem Balingkang yang merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat di Pulau Dewata. Sedangkan proyek teranyar yang berhasil dirampungkan Wayan Setiyem adalah Kedatuan Alang Sanja dan Puri Jati Bebalang, Bangli yang baru-baru ini tengah naik daun.
Perjalanan usahanya pun tak selalu mulus. Wayan Setiyem sempat melebarkan sayap usahanya ke bisnis peternakan. Sayangnya karena minim pengetahuan di bidang tersebut, ia tidak menghasilkan hasil yang maksimal. Setelah itu ia mendapat tawaran kerja dari mantan bupati kala itu untuk membangun sebuah bale Bali. Dari keberhasilan menyelesaikan proyek tersebut, kembali Wayan Setiyem kebanjiran pesanan. Akhirnya sampai suami dari Ni Wayan Karyani ini ia memilih terus berfokus menjalani profesi sebagai undagi di tengah era modernisasi sekarang ini demi menghadirkan karya arsitektur Bali yang dapat dinikmati masyarakat.