Berbeda dengan motif songket pada berbagai daerah di Bali lainnya, kain berjenis tenun dari Jembrana nampak lebih sederhana. Namun dr. Luh Wayan Sriadi dan Alm. Ketut Widiadnyana mampu melihat kekuatan di balik kesederhanaan kain warisan leluhur di Jembrana. Kain Songket Jembrana berhasil disulap menjadi produk ready to wear berkualitas tinggi hingga dilirik banyak kalangan termasuk para pencinta fashion dari luar negeri.
Sebelum dikenal sebagai pengusaha songket yang memiliki jaringan pemasaran di pasar global ini, langkah perjalanan dr. Luh Wayan Sriadi terbilang panjang dan penuh lika-liku tantangan. Perempuan kelahiran Gianyar ini mengisahkan awal mula terjun ke industri fashion saat ia mengabdi sebagai seorang dokter di Jembrana. Kala itu ia melihat banyak ibu rumah tangga di sekitarnya ternyata memiliki skill membordir namun tidak tahu cara mengaktualisasikan kemampuan mereka tersebut. dr. Luh Wayan Sriadi kemudian berinisiatif membuat produk fashion bordir lewat tangan-tangan terampil para perempuan di sekitar lingkungannya.
Singkat cerita produk yang ia pasarkan melalui media online tersebut cukup diminati, bahkan dr. Luh Wayan Sriadi nekat berpameran ke Jakarta di tahun 2013. Pada saat itu justru lebih banyak permintaan terhadap kain tenun, sehingga membuatnya terpacu mengembangkan kain jenis tersebut. Bersama sang suami, Alm. Ketut Widiadnyana menjajaki beberapa penenun, hanya saja proses yang dilalui sulit. Berkat ketekunannya, dr. Luh Wayan Sriadi berhasil menggandeng 10 orang penenun di Jembrana yang kini telah berkembang menjadi 55 orang. Semenjak itu pula ia mulai berkenalan dengan kain tenun songket khas Jembrana di mana pada masa itu belum terlalu diminati.
Salah satu alasan mengapa kain songket Jembrana awalnya kurang populer yakni motif yang dimiliki terkesan monoton. Namun dr. Luh Wayan Sriadi dan sang suami jeli melihat kekuatan di balik kesederhanaan kain songket Jembrana, di mana mereka melakukan inovasi yaitu membuat diversifikasi produk siap pakai. Alhasil kain warisan leluhur di Bali Barat ini dapat dipakai oleh berbagai kalangan, tidak hanya dalam bentuk kain yang melilit badan saja tapi juga berupa pakaian, tas, dan lain sebagainya.
Selain berinovasi dalam bentuk penyajian produk, dr. Luh Wayan Sriadi bersama kelompok penenun yang diberi nama Putri Mas Collection juga selalu menangkap tren permintaan pasar. Misalnya dengan mengembangkan produk songket tanpa sambungan yaitu Songket Negara, mengikuti permintaan pasar yang menginginkan songket yang ringan, rapat. Membawa bendera Putri Mas Collection, dr. Luh Wayan Sriadi mendapat kesempatan pembinaan dari Bank Indonesia KPW bali sejak tahun 2016 hingga sekarang. Juga mengikuti program pendanaan PPBT Kemenristek/BRIN pada tahun 2017 dan 2018.
Selama mengikuti program dari Kemenristek/BRIN tersebut, mereka dapat mengembangkan lebih banyak warna alam khusus bahan baku asli dari jembrana yaitu mangrove, mahoni, jati dan lainnya. Hal ini sejalan dengan salah satu misi dr. Luh Wayan Sriadi bersama Putri Mas Collection yaitu mengembangkan produk fashion yang suistanable atau berkelanjutan dengan menggunakan bahan baku lokal dan tidak mencemari lingkungan.
Menyadari pentingnya menjaga warisan budaya leluhur agar tidak diklaim oleh bangsa lainnya, dr. Luh Wayan Sriadi dengan sigap mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual. Kini terdapat 18 motif keluaran kelompok penenun Putri Mas Collection yang terdaftar HAKI. Usaha tersebut tidaklah sia-sia apabila melihat produk-produk mereka ini tidak hanya diminati masyarakat dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar internasional dari Vietnam, Filipina, Korea hingga Rusia. Selain itu, mereka juga telah meraih banyak penghargaan baik di tingkat daerah maupun nasional seperti Silpakara Nugraha, Teknologi Tepat Guna, Dekranas Award, dan menjadi salah satu produk yang lolos kurasi untuk produk Bangga Buatan Indonesia yang akan ditayangkan di 5 bandara besar di Indonesia.
Melihat peran dr. Luh Wayan Sriadi dan alm. I Ketut Widiadnyana dalam mengangkat nama Songket Jembrana sangat besar, tentunya perlu mendapat dukungan serius dari pengampu kebijakan. Melalui langkah mereka menimbulkan multiplier effect, tidak hanya sebagai bentuk pelestarian budaya dan lingkungan. Juga merupakan usaha pemberdayaan penenun lokal yang mayoritas adalah wanita serta pengembangan ekonomi kreatif karena berefek positif pada sosial dan ekonomi di Bali khususnya di Jembrana.