Benny Hadi Soesanto – Mega Jaya Warehouse
Kesuksesan bukanlah privilige bagi kalangan yang datang dari latar pendidikan tinggi. Siapa pun berhak dan pantas meraih keberhasilan atas usahanya asalkan memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkannya. Seperti kisah perjuangan hidup seorang pengusaha bernama Benny Hadi Soesanto. Cerita dari pemilik Mega Jaya Warehouse ini menginspirasi dan menjadi bukti bahwa orang yang tidak sempat menikmati kesempatan bersekolah juga mampu meraih kesuksesan karier dan finansial. Kuncinya adalah jeli melihat peluang yang ada di sekitar, lalu menjalankannya secara giat dan konsisten.

Benny Hadi Soesanto bersama istri dan kedua anaknya
Kebutuhan pakan dan aksesoris untuk hewan peliharaan menjadi hal esensial yang diperlukan para pencinta hewan. Baik itu kalangan pembiak atau breeder maupun mereka yang memelihara hewan secara individu. Permintaan terhadap pakan dan perlengkapan hewan peliharaan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah orang yang memelihara hewan, bahkan jenis hewan peliharaan pun saat ini kian variatif. Peluang inilah yang kemudian direspons oleh pengusaha asal Surabaya, Benny Hadi Susanto, yang menyediakan pakan maupun aksesoris untuk segala jenis hewan peliharaan.
“Kami menyediakan berbagai macam kebutuhan hewan anjing, kucing, burung, ayam, ikan, dan hewan lainnya, baik dalam bentuk gorsir maupun eceran. Konsep yang kami tawarkan one stop shopping, alias semua kebutuhan berbagai macam hewan tersedia di satu tempat,” ujar Benny, pemilik Mega Jaya Warehouse tersebut.
Lanjut Benny, usahanya yang berlokasi di Jalan Cargo Indah I Nomor 12, Ubung, Denpasar tersebut menyuplai permintaan dari berbagai toko perlengkapan hewan (pet shop) di seluruh Bali. Salah satu strategi marketing yang diterapkan sehingga saat ini dirinya menjadi distributor produk yang paling diminati adalah layanan antar gratis ke seluruh area di Pulau Dewata.
“Tidak ada minimal order untuk menggunakan jasa layanan antar kami. Ke mana saja, siap kami kirim,” kata Benny menerangkan.
Strategi terebut dilakukan selain memperluas jangkauan pemasaran produk, juga bertujuan membantu kalangan pengusaha yang ada di pelosok untuk mendapatkan harga beli yang terjangkau. Sehingga mereka dapat mematok harga jual yang tidak mahal di kalangan end user. Alhasil dengan teknik penjualan tersebut, semakin banyak pengusaha pet shop yang kembali memesan produknya dan menjadi pelanggan setia.
Variasikan Segmentasi Pasar
Benny juga berusaha menepis anggapan bahwa makanan atau perlengkapan penunjang untuk hewan peliharaan pasti mahal harganya. Ia menceritakan bahwa di awal merintis usaha memang pembeli produk esensial hewan peliharaan kebanyakan datang dari kelompok ekonomi kelas menengah ke atas. Seiring berjalannya waktu, Benny kemudian mencoba memperluas segmentasi pasarnya dengan menyasar masyarakat kelompok ekonomi menengah ke bawah. Hal itu dilakukan dengan mengajak kerja sama produsen lokal.

Staff Mega Jaya Warehouse
“Sebelumnya kami hanya menjual produk-produk impor. Secara kualitas memang tidak diragukan lagi. Namun dari segi harga jelas lebih tinggi dari produk lokal,” ungkapnya.
Sementara menurut Benny, produk lokal awalnya dipandang sebelah mata. Hal itu terbukti di awal usahanya menjualkan produk lokal, banyak pemilik pet shop yang enggan memesan. Padahal ia sendiri telah membeli di tingkat produsen dalam kuantitas yang tidak sedikit. Sekali lagi insting bisnisnya bermain, ia menerapkan strategi iming-iming bonus produk kepada para distributor yang mampu menjual produknya pada jumlah tertentu. Ternyata promosi tersebut berhasil dan semakin banyak yang mulai mencoba menggunakan produk lokal.
Produk lokal yang dinilai murahan, semakin diminati kalangan konsumen dalam memelihara hewan. Bahkan saat ini produk makanan hewan buatan produsen lokal menjadi produk unggulan yang dijual Benny lantaran kualitasnya semakin sejajar dengan buatan luar negeri. Namun ia masih menyediakan produk-produk impor untuk memenuhi permintaan segmentasi masyarakat menengah ke atas.
Berwirausaha Sejak Dini
Jiwa entrepreneur yang dimiliki Benny ternyata telah bertumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah. Minatnya menjadi wirausahawan tepatnya dimulai saat ia lulus Sekolah Dasar. Saat itu ia dan keluarganya pindah ke Bali lantaran ayahnya dipindahtugaskan. Ketika sudah tinggal di Bali, Benny memilih berhenti dari pendidikan SMP yang sempat dijalaninya beberapa bulan karena ingin segera bekerja menghasilkan uang.
Ia yang masih remaja berusia belasan tahun itu memutuskan menekuni usaha kuliner yaitu dengan menjual masakan buatan ibunya. Ia menerapkan sistem titip jual ke warung-warung serta menjualkan langsung dengan cara berkeliling. Dari usahanya itu cukup memenuhi kebutuhannya serta mampu memberi sejumlah uang kepada ibunya.

Selanjutnya Sang Ayah dipindah tugas kembali, kali ini ke Kota Ujung Pandang. Di daerah perantauan ini Benny mencoba peruntungan dengan menjual produk pakan ternak yang dijual. Berkat kegigihan mempromosikan jualannya Benny pun berhasil memperluas jangkauan pembeli. Tidak hanya di Kota Ujung Pandang, pemasarannya berhasil hingga ke wilayah paling timur Indonesia.
Dalam setiap kisah perjuangan usaha, tentunya perjalanan yang dilalui tidak mulus begitu saja. Terdapat tantangan yang mesti dihadapi agar nantinya dapat melangkah ke level yang lebih tinggi. Demikian pula dengan cerita perjuangan Benny yang sempat mengalami kendala hingga tepatnya di tahun 2002 saat peristiwa bom Bali terjadi, Benny nekat datang ke Pulau Dewata untuk bekerja. Bermodal tabungan sebesar Rp 55 juta, ia ingin membuka usaha. Setelah mencari lokasi usaha dan melakukan penawaran kepada pemilik ruko, ia berhasil menyewa sebuah tempat di kawasan Tabanan dengan biaya sewa Rp 35 juta untuk periode tiga tahun. Padahal dalam kondisi normal saja seharusnya biaya sewa mencapai Rp 30 juta hanya untuk satu tahun.
Setelah mendapatkan lokasi berjualan sesuai budget, ia malah baru memikirkan usaha apa yang akan dilakukan. Pada waktu itu sedang tren pemeliharaan ikan Lohan di masyarakat Bali, sehingga Benny pun tertarik melirik peluang tersebut. Meski tidak memiliki dasar pengalaman memelihara ikan jenis itu, ia bertekad ingin belajar. Modal Rp 10 juta ia keluarkan untuk membeli 21 ekor ikan Lohan. Sisanya ia gunakan untuk membeli pakan dan mesin pemeliharaan.
Seiring berjalannya proses usaha, ternyata pembeli kebanyakan datang padanya justru tertarik pada mesin yang ia pajang di tokonya. Akhirnya Benny memahami apa yang saat itu paling dibutuhkan oleh peternak ikan Lohan. Ia pun mengubah haluan dengan menjual alat-alat pemeliharaan ikan. Ia tidak hanya memasarkan di wilayah Tabanan juga merambah ke pasar hewan yang ada di Kota Denpasar. Ternyata sangat banyak yang meminati produknya ditambah pelayanan yang ramah membuat ia semakin dekat kesuksesan usaha.



Keberhasilan itu pun menjadi tonggak awal keputusannya untuk memperbanyak produk jualan, tidak hanya menjual pakan ikan ia juga menambah produk untuk hewan peliharaan lain. Sempat membuka toko di jalan Cokroaminoto, Denpasar, kini ia membeli sebuah tempat yang dijadikan sebagai gudang penyediaan produk.
Lewat kisah perjuangan Benny Hadi Susanto, kita dapat belajar bahwa sebuah kesuksesan tidaklah serta merta didapat secara instan. Perlu trial eror yang harus dilalui untuk bisa menemukan formula usaha yang tepat sesuai dengan kemampuan kita. Selain itu, latar pendidikan tinggi bukanlah jaminan untuk mengantarkan seseorang pada pintu kesuksesan. Begitu pula pendidikan yang rendah tidak lantas membuat seseorang tidak layak meraih karier secara maksimal. Terbukti, pria lulusan SD pun akhirnya mampu menjadi pengusaha yang kini berhasil membuka kesempatan kerja bagi orang-orang dengan titel pendidikan lebih tinggi darinya.