MENTERI Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menerangkan alasan mengapa biaya logistik di Indonesia terbilang mahal. Hal ini kerap dikeluhkan oleh para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Menurutnya, biaya logistik di Tanah Air masih tinggj karena proses pembelian atau pengiriman barang dilakukan secara end to end atau dari ujung ke ujung antara penjual dan pembeli, yang menyebabkan tidak adanya subsidi dalam pembiayaan.
“Karena prosesnya masih end to end, ini masih menjadi permasalahan. Terutama di wilayah Timur (Indonesia). Jadi ini bukan bicara barang yang menggunakan tol laut,” kata Lutfi, dalam diskusi virtual Bangga Buatan Indonesia, Senin (3/5).
Mendag menyebut, saat ini pemerintah berupaya memperbaiki biaya logistik, baik soal sistem maupun regulasi. Pemerintah pun menargetkan bisa menekan biaya logistik menjadi 17% pada 2022 mendatang.
“Logistik kita mengalami perbaikan, Kalau tahun 2014, kita mengeluarkan biaya 26% dari PDB untuk logistik, sekarang ini sudah turun menjadi 23% dan dalam beberapa tahun ke depan target kita akan turun menjadi 17%,” ungkap dia,” jelas Lutfi.
Sebelumnya, pemerintah telah meluncurkan sistem logistik baru, yakni Batam Logistic Ecosystem (BLE). Sistem tersebut diyakini dapat mengefisiensikan biaya logistik ekspor dan impor. Dengan sistem pembiayaan logistik tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, investasi di Tanah Air diharapkan semakin meningkat.
Dia pun menbandingkan Indonesia dengan Singapura, yang dinilai kalah dalam efisiensi pembiayaan logistik. “Negara di seberang itu 13%, di kita 25,3%. Masa beda 10% lebih. Kalau beda gitu banyak, orang (berpikir) ngapain investasi di Indonesia. Kami menargetkan jadi 17% hingga 2024,” tutur Luhut dalam konferensi pers virtual, Kamis (18/3). (OL-13) /MI