Perkembangan teknologi digital saat ini memungkinkan orang-orang untuk melakukan aktivitas secara efektif dan efisien. Salah satu kegiatan yang dapat dipermudah oleh adanya kemajuan teknologi adalah berbelanja. Menjamurnya bisnis e-commerce melalui beragam maketplace yang ada saat ini membuat masyarakat semakin mudah membeli kebutuhan mereka. Namun di satu sisi, keberadaan e-commerce juga mengancam eksistensi bisnis offline yang sudah lama berkembang. Lantas, bagaimanakan pelaku bisnis yang masih mengandalkan pemasaran via offline mereka dalam menjawab tantangan ini?
Salah satu pemilik bisnis di Pulau Dewata yang masih bermain di pasar offline ialah Nengah Natyanta. Pemilik kelompok bisnis Coco Group ini masih optimis menjalankan usahanya di tengah kompetisi bisnis yang semakin ketat. Bahkan persaingan yang dihadapi tidak hanya berada pada ranah “online vs offline”, melainkan juga “offline vs offline”.
Melalui grup usahanya, Nengah Natya membawahi tiga lini usaha yaitu retail, hospitality, dan produksi. Namun di antara ketiganya, Natya mengaku bisnis retail saat ini masih menjadi pilar bisnis andalannya. Bisnis ritel ini awalnya berbentuk pasar swalayan, kemudian dikembangkan ke dalam bentuk minimarket yang tersebar di beberapa daerah di Bali. Terkait cara menjaga kelanggengan usaha yang telah berjalan selama 12 tahun tersebut, Natya memiliki dua strategi yang dapat diterapkan ke dalam bisnis jenis apa pun.
Membangun SDM
Tidak banyak bisnis ritel yang dinakhodai putra daerah Bali yang berhasil mempertahankan eksistensinya selama belasan tahun. Namun Nengah Natya mampu menjawab berbagai tantangan yang ada. Salah satunya ketika gelombang masuknya brand-brand ritel nasional maupun internasional ke Bali. Keberadaan para kompetitor yang memiliki modal besar tersebut tidaklah membuat Natya menjadi ciut. Justru ia jadikan motivasi untuk membuat target pencapaian yang semakin besar.
Menurut pria kelahiran Karangasem, 9 Januari 1969 ini, ada beberapa strategi yang ia terapkan dalam menghadapi tantangan yang ada. Pertama adalah membangun team work yang kuat. Natya menjelaskan bahwa dirinya konsisten membangun tim management yang solid. Menurutnya, berkat kerja sama yang baik antar sesama SDM di perusahaan, maka tantangan apa pun dapat terlewati dengan baik. Terutama pada level manager yang sangat berperan penting dalam perjalanan suatu usaha.
“Saya selalu memberikan motivasi, arahan dan solusi dari setiap masalah serta menumbuhkan rasa memiliki dalam tim manajemen saya. Jika motivasi dan rasa memiliki itu terus tumbuh maka perusahaan pun ikut bertumbuh,” ujar Natya.
Nengah Natya dikenal sebagai wirausahawan yang tidak main-main dalam menjalankan usaha. Pada masa awal pendirian bisnisnya, Nengah Natya menggunakan jasa konsultan yang kredibel di bidang usaha ritel. Dari sanalah ia mengetahui sisi kekuatan dan kelemahan pada bisnisnya. Termasuk juga evaluasi dari sisi SDM yang ada. Pelan tapi pasti, bisnis Nengah Natya kian menunjukkan hasil ke arah positif.
Akomodir Kebutuhan Pasar
Strategi kedua yang dimiliki Natya dalam upaya mempertahankan serta mengembangkan usahanya adalah mengikuti dinamika yang ada. Ia menyadari pentingnya motivasi untuk terus berinovasi demi tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Salah satunya dengan mencari tahu apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini kemudian menerapkannya ke dalam usaha.
Seperti misalnya saat Natya menjawab kebutuhan terhadap adanya tempat berbelanja yang lengkap dan dekat dengan masyarakat di desa. Ia pun membuka jaringan minimarket dengan nama Coco Express yang dihadirkan di beberapa daerah. Kemudian preferensi masyarakat mulai mengarah ke tempat berbelanja yang mengakomodir life style masyarakat saat ini yaitu berkumpul sembari menikmati panganan. Natya pun sigap menghadapi tantangan pasar tersebut. Selain itu, menghadapi persaingan dengan bisnis berbasis online, Natya tidak mau tertinggal. Ia menghadirkan Coco Grosir yang merupakan tempat berbelanja dengan konsep online marketplace.
Coco Grosir ini menawarkan pelayanan delivery order. Ke depannya, bisnis ini akan menjadi salah satu fokus Nengah Natya dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Natya mengaku anak usaha yang baru dua tahun berjalan ini memiliki omset besar karena ia tak memerlukan cost untuk kantor besar. Ia hanya menyiapkan gudang penyimpanan. Proses yang terpenting adalah pemasaran produk lewat daring, sisanya tugas tenaga pengantar memastikan produk sampai di konsumen.
“Bisnis ini sangat menjanjikan karena perkembangan bisnis tak lepas dari perkembangan teknologi. Mereka yang sukses adalah yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman,” kata Natya.
Dua strategi mengembangkan usaha yang telah dipaparkannya, menurut Natya tidak hanya diterapkan pada bisnis ritelnya saja. Melainkan juga di lini usahanya yang lain, baik offline maupun online.
Kisah Membangun Coco Group
Pria yang terlahir dari keluarga sederhana ini memulai karier bisnisnya dari modal pinjaman dari perbankan. Karena itulah ia harus cermat memanfaatkan modal yang ada agar dapat menghasilkan profit sekaligus memenuhi kewajiban mengembalikan modal tersebut. Awalnya ia melirik bisnis restoran, mengingat ia telah memiliki pengalaman kerja di hotel sebelumnya. Resto yang didirikannya itu dinamakan Coco Bistro. Nama itu dipilihnya karena rencananya ia ingin memasukkan menu kelapa muda sebagai salah satu pilihan minuman di restorannya.
Singkat cerita Coco Bistro mengalami menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Barulah Nengah Natya memutuskan untuk mengembangkan bisnis ke sektor lain. Salah satunya di industri pariwisata khususnya di bidang akomodasi penginapan. Berbekal pengalaman bekerja di bidang yang sama, yaitu sekitar dua belas tahun ia mengabdikan dirinya dibidang perhotelan. Bukan waktu yang singkat untuk menimba ilmu dan mempelajari seluk beluk dunia perhotelan. Waktu pun membuktikan, kini ia mampu membangun sendiri hotel yang ia bernama Natya Hotel yang tersebar di Ubud, Buleleng, Tabanan hingga Gili Terawangan (Lombok).
Sektor lain yaitu bisnis ritel dipilihnya, terutama penjualan kebutuhan primer masyarakat. Toko pertama yang didirikannya adalah Coco Mart yang berlokasi di Jimbaran pada tahun 2006. kemudian berkembang lagi ke beberapa tempat lainnya dan ada pula yang berbentuk semi minimarket yang disebut Coco Express.
Pasang surut dalam bisnis kerap ia jumpai sebelumnya. Termasuk kendala ketika BOM Bali I dan II beberapa tahun silam. Pada waktu itu bisnisnya sempat gonjang ganjing. Beruntung Nengah Natya mampu melewatinya dengan baik tanpa mengalami kerugian. Menurutnya risiko bisnis adalah konsekuensi logis yang akan ditemui para pengusaha. Menyerah, bukanlah jawaban dalam menyikapi tantangan yang ada. Melainkan usaha kerja keras dan presistensi merupakan kiat-kiat utama dalam mempertahankan bisnis di tengah badai yang menerpa.