Tatkala menjalankan roda suatu usaha, tidak hanya diperlukan modal finansial melainkan juga kemampuan adaptif dalam menanggapi kebutuhan pasar. Ada pengusaha yang langsung mengetahui pola permintaan pasar namun tak sedikit pula yang harus bersusah payah dahulu untuk memahami kebutuhan target marketnya. I Ketut Mudana salah satu pengusaha yang sabar melakukan riset pasar selama dua tahun sampai akhirnya ia dapat menggaet para konsumennya. Inilah kisah selengkapnya tentang perjuangan pria asal Jembrana ini dari membangun UD. Adi Kuud sampai mulai mendapat kepercayaan dari para pelanggan.
Bagi krama Bali, jika mendengar kata “kuud” bisa jadi langsung membayangkan buah kelapa sebab memang demikian terjemahan kata dari bahasa Bali tersebut. Jika Anda kebetulan lewat di Jalan Denpasar – Gilimanuk, Kecamatan Pekutatan, Jembrana dan lantas menemukan toko dengan papan penanda “UD Adi Kuud”, boleh jadi akan kebingungan mengapa isi dagangannya tidak mencerminkan buah kelapa sama sekali.
Ya, UD. Adi Kuud yang berlokasi di Pekutatan tersebut merupakan sebuah toko bahan bangunan yang sudah sejak 21 tahun beroperasi. Sang pemilik, I Ketut Mudana memiliki alasan khusus menamakan toko materialnya dengan nama Adi Kuud. Ternyata sebelum terjun ke industri bahan bangunan, anak bungsu dari enam bersaudara ini mengawali karir wirausaha dengan menjual buah kelapa. Usaha tersebut sudah turun temurun dilakukan keluarganya, sebab di daerah tempat tinggalnya menyimpa potensi perkebunan kelapa yang melimpah.
I Ketut Mudana memulai usaha toko bangunan secara tidak sengaja di tahun 1995. Seperti biasa ia hendak mengantar pasokan buah kelapa yang akan dia pasarkan ke Kota Denpasar. Kala itu ada salah satu teman yang meminta bantuan untuk dibelikan besi material konstruksi. Kebetulan memang di saat kembali dari ibukota, truk yang ia kendarai tidak membawa muatan lagi. Sehingga ia pun menyanggupi permintaan tersebut. Tak disangka semakin banyak orang yang ikut memintanya membawakan kebutuhan bahan bangunan dari Denpasar sebab di masa itu toko bangunan belum ada di desanya.
Fenomena itu kemudian menjadi tonggak awal usaha Ketut Mudana menggarap peluang bisnis penjualan material konstruksi. Hanya saja saat ia terpilih secara aklamasi sebagai Kepala Desa Asah Duren, Pekutatan, ia harus mengurangi frekuensi kesibukan di dunia usaha. Barulah sekitar tahun 2007 di mana ia sudah tidak lagi menjadi pemucuk pimpinan di desa, ia bisa kembali fokus ke usahanya. Sebagai pembuktian bahwa ia benar-benar serius, ia memberanikan diri mengajukan pinjaman di perbankan.
Namun setelah berhasil mendirikan toko UD. Adi Kuud, perjuangan Ketut Mudana tidak berhenti sampai di situ saja. Tokonya tak langsung ramai diserbu pembeli, hal itu sempat membuat ayah dua orang putra ini sempat tidak bisa tidur nyenyak. Kemudian yang dilakukan Ketut Mudana terus melakukan survei tentang kebutuhan pasar ke masyarakat sekitar. Ternyata target marketnya itu lebih tertarik berbelanja ke toko yang menyediakan produk secara lengkap dan dengan harga kompetitif. Itulah yang mendorong Ketut Mudana memberanikan diri menambah variasi produk serta mengusahakan agar harga yang ditawarkan bersaing dengan kompetitor yang ada di kota.
Selama dua tahun hal itu dilakukan hingga akhirnya ia mulai mendapat kepercayaan dari masyarakat. Nama UD. Adi Kuud kian melambung seiring semakin banyaknya konsumen yang bertransaksi di sana. Ketut Mudana mengaku ingin mengembangkan sayap usahanya tidak hanya suplayer bahan bangunan saja melainkan ingin menjadi produsen kebutuhan konstruksi seperti genteng, batako, maupun beton. Diharapkan dengan keikutsertaan kedua putranya kelak dapat berkontribusi dalam memajukan usaha yang telah dirintis dari nol tersebut.