Sudah menjadi pemahaman yang umum bahwa seorang perempuan Bali memiliki kekuatan dalam menjalankan berbagai peran di kehidupan. Seorang perempuan yang lahir dan bertumbuh di Bali berkarakter giat dalam bekerja dan tidak mudah mengeluh. Baik peran sebagai ibu, istri, anak, menantu, dan anggota masyarakat dapat dilakoni secara berbarengan dan seimbang. Gambaran itu pula yang bisa kita dapatkan dari sosok perempuan bernama Ni Luh Rusni,SE. Lewat kerja kerasnya, kini ia sukses membangun usaha di sela-sela perannya sebagai seorang istri dan ibu.
Ni Luh Rusni,SE sosok wanita hebat di balik berdirinya Toko Ary Jaya yang berlokasi di Jalan Raya Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Toko ini menjadi salah satu pusat retail yang kerap dikunjungi masyarakat di sekitar. Mengawali dari sebuah kios berukuran kecil, kini Rusni berhasil mewujudkan sebuah bangunan usaha di atas lahan yang lebih luas. Terdiri dari tiga lantai, toko tersebut menyediakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Mulai dari lantai tiga tempat kebutuhan fashion dewasa sampai anak-anak. Kemudian di Lantai dua untuk kebutuhan sehari hari tersedia aneka makanan, minuman dan lantai dasar untuk perabotan rumah tangga.
Nyatanya di balik kesuksesan wanita kelahiran Kerobokan ini dalam membangun usaha, terdapat cerita perjuangan yang dipenuhi lika-liku rintangan. Sebelum terjun ke dunia usaha, Ni Luh Rusni sempat mencicipi pengalaman kerja di beberapa perusahaan. Terakhir, ia bekerja di sebuah perusahaan jamu di Denpasar. Pekerjaan itu ia lakoni bahkan setelah menikah dengan Sang Suam I Ketut Yasa yang bertempat tinggal di Karangasem. Lantaran ikut suami tinggal di wilayah Bali Timur, setiap hari ia harus melalui perjalanan berpuluh kilometer dari Karangsem dan Denpasar serta sebaliknya.
Saat dalam keadaan hamil pun, Ni Luh Rusni masih tetap menjalankan rutinitasnya menempuh jarak yang begitu jauh untuk bisa ke tempat kerja. Terkadang ia merasa cukup lelah ditambah dalam perjalanan kerap berpapasan dengan kendaraan berukuran besar sehingga bisa terbilang berbahaya bagi keselamatannya sendiri. Namun rasa lelah perjuangannya terbayar begitu anak kedua lahir. Setelah melahirkan Ni Luh Rusni kembali melanjutkan rutinitas kerjanya.
Kembali ujian kehidupan menerpa saat si anak sulung tak mau diberi susu formula sehingga mengharuskan Ni Luh Rusni untuk menyusui bayinya secara langsung. Akhirnya demi merawat sang buah hati tercinta, ia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Bagi Ni Luh Rusni tidak ada yang lebih utama dibanding kebahagiaan dan kesehatan keluarganya, walaupun harus menomorsekiankan karirnya sendiri.
Di sisi lain Sang Suami juga berusaha keras memajukan kondisi finansial dengan membuka usaha fotokopi. Berawal dari menyewa sebuah kios kecil, pelan-pelan mereka dapat mengumpulkan modal menyewa tempat yang lebih besar. Ni Luh Rusni yang telah berhenti bekerja kemudian mencoba mengembangkan usaha dengan menambah produk fashion untuk dijual. Ternyata mendapat respons positif dari masyarakat sekitar.
Setelah itu Ni Luh Rusni dan suami membeli sebidang tanah dan mencicil membangun toko yang lebih besar di sana. Setelah dua tahun proses pembangunan barulah ia dapat meresmikan bangunan Toko Ary Jaya yang berdiri sampai saat ini. Dalam proses itu Ni Luh Rusni juga secara bertahap menambah variasi produk yang ia jual. Mulai dengan menambah menjual barang kebutuhan sehari-hari sampai menjual perabotan rumah tangga.
Selain dikenal menyediakan barang-barang terlengkap, Toko Ary Jaya juga dipilih sebagai pusat berbelanja favorit masyarakat sekitar wilayah Kecamatan Manggis karena menawarkan harga yang terjangkau. Ni Luh Rusni menyadari target marketnya saat ini yaitu kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Sehingga faktor harga menjadi hal krusial yang mempengaruhi perkembangan usahanya.
Diakui Ni Luh Rusni bahwa saat ini kompetitor bidang usaha retail di Bali Timur mulai bermunculan. Terutama toko retail modern dari brand kenamaan ikut merangsek dalam persaingan usaha. Ni Luh Rusni mengatakan tidak terlalu ambil pusing sebab ia yakin bahwa ia memiliki target pasar tersendiri. Menurutnya persaingan usaha merupakan hal yang wajar, tinggal bagaimana menyikapinya agar tetap bisa mempertahankan eksistensi usaha.
Berbagai strategi dilakukan Ni Luh Rusni untuk dapat menjaga loyalitas pelanggan. Di antaranya dengan menyelenggarakan berbagai macam promo, baik potongan harga maupun promo poin. Bagi pembeli yang memiliki kartu member di Toko Ary Jaya, saat berbelanja berkesempatan menikmati harga lebih murah serta mendapat poin yang dapat dikumpulkan. Poin akumulatif tersebut nantinya dapat ditukarkan hadiah tertentu pada akhir periode masa promo.
Melalui pengadaan sistem member itu, Ni Luh Rusni juga dapat mendata para pelanggan datang dari wilayah mana saja. Ia mengatakan saat ini pelanggan setianya berasal dari beberapa desa yakni Ulakan, Padang Bai dan Angantiga. Demi memperluas jangkauan pemasaran, dirinya juga memanfaatkan teknologi media sosial untuk memasarkan barang-barangnya. Dinilai teknik pemasaran ini cukup efektif dari segi waktu dan biaya.
Ni Luh Rusni berharap ke depannya Toko Ary Jaya dapat terus eksis melayani kebutuhan masyarakat di Bali Timur. Bila perlu dapat berkembang lebih jauh lagi misalnya dengan membuka cabang di berbagai tempat. Selain mengelola toko retail, Ni Luh Rusni menjelaskan dirinya juga telah mengembangkan sayap bisnis ke bidang usaha food and beverage dan bisnis pusat kebugaran.
Melalui langkah tersebut Ni Luh Rusni menjadi salah satu tokoh pengusaha perempuan yang berkontribusi dalam memajukan ekonomi daerah dengan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Semoga kisah ini dapat menginspirasi perempuan lainnya untuk mantap berkarya dan mengaktualisasi kemampuan dirinya.