Cekatan dalam melirik prospek cerah di industri perikanan, kini Nyoman Suitra menjadi salah satu pelaku usaha budidaya laut atau marine culture sukses di Bali Utara. Beberapa kali mengalami pasang surut usaha tak menghentikan langkahnya untuk konsisten mengembangkan Hatchery atau pusat pembibitan ikan jenis bandeng. Meski terbilang masih skala rumah tangga, namun hasil budidayanya sudah dilirik berbagai pihak. Bahkan dipercaya untuk menyuplai sejumlah tambak yang ada di negara-negara tetangga.
Kesuksesan bukanlah milik orang dengan privilige tertentu saja. Nyatanya setiap insan mempunyai kesempatan yang sama dalam meraih sukses. Hal ini dibuktikan oleh pengusaha asal Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng bernama I Nyoman Suitra. Keterbatasan dalam meraih pendidikan di masa lalu tak membuatnya minder untuk mampu bersaing di industri yang ia geluti saat ini. Terbukti meski hanya tamat sekolah dasar, pengusaha kelahiran Buleleng 31 Desember 1960 ini berhasil merambah pasar ekspor. Bahkan mampu membuka lapangan pekerjaan hingga menyerap ratusan tenaga kerja.
Nyoman Suitra mengawali usaha pembibitan ikan sejak tahun 1996 bersama sepupunya bernama Nyoman Sudarsana atau yang akrab disapa Pranyit. Pertama kali memulai dengan empat kolam penangkaran seluas 3×5 meter. Kegiatan budidaya pertama dimulai dari produksi benih bandeng di atas tanah sewa. Ikan jenis bandeng dipilih lantaran merupakan komoditi kelautan yang sangat diminati di pasaran.
Ketika memulai budidaya, Nyoman Suitra dan beberapa pengusaha hatchery skala rumah tangga lain memperoleh bimbingan teknis dari Balai Besar Budidaya Air Laut Gondol. Setelah beberapa tahun, pihak balai menilainya mampu mandiri, baik dari penerapan teknologi, manajemen produksi, hingga pemasaran. Bahkan, mandiri dalam hal pakan dengan berimprovisasi menggunakan pakan organik, yakni rotivera dan plankton.
CV. Dewata Laut
Baru di tahun 2002, usaha milik Nyoman Suitra berbendera CV. Dewata Laut ini kian berkembang untuk memenuhi permintaan pasar. Dari empat unit kolam berkembang terus dan kini menjadi 200 kolam. Demi menunjang usahanya Nyoman Suitra memberanikan diri membeli lahan yang kemudian terus berkembang hingga mencapai seluas 5 hektare. Saat ini CV. Dewata Laut pun menjadi salah satu penyedia benih komoditi kelautan terbesar di Bali Utara. Hingga berhasil mengangkat nama Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, sebagai produsen benih ikan bandeng terbesar di dunia.
Unit pembenihan ini mampu menghasilkan benih ikan bandeng (nener) sebesar 5 juta ekor per hari atau sekitar 1,8 milyar ekor per tahun. Sedangkan untuk produksi telur ikan bandeng (nener) unit ini mampu menghasilkan telur sekitar 30-40 kantong per hari, setiap kantong sekitar 100.000 butir telur atau sekitar 3-4 juta telur per hari. Kapasitas bak yang tersedia untuk unit ini sebanyak 32 kolam ukuran 3×3 meter dengan padat penebaran sekitar 50.000 telur/bak.
Soal pendistribusian, Nyoman Suitra mengatakan pihaknya selalu mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Permintaan terhadap benih dan telur ikan bandeng datang dari penjuru nusantara. Suami dari Nyoman Darmi ini mengatakan kunci kesuksesan proses pendistribusian benih terletak pada sistem angkut yang bagus. Ia selalu memastikan tingkat pengiriman benih maupun telur ikan dapat mencapai 100%.
Selanjutnya apabila permintaan dari pasar domestik terpenuhi barulah Nyoman Suitra memenuhi permintaan pasar ekspor. Permintaan benih bandeng dari luar negeri mencapai lima juta ton per hari yang berasal dari negara-negara Asia, seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Filipina. Jika produksi benih belum mencapai target, suami dari Gusti Nyoman Darmini ini akan membeli dari para pembudidaya lainnya. Kendati harga jual ke pasar mancanegara cukup tinggi, menurut Komang, hanya bisa dinikmati sepanjang Januari hingga April setiap tahunnya.
“CV Dewata Laut juga bekerja sama dengan para ahli di balai besar bidang penelitian budidaya Ikan Gondol dan Universitas Pendidikan Ganesha, untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi benih,” ujar ayah dua anak ini.
Dalam mengembangkan usahanya tersebut, Nyoman Suitra dibantu oleh 158 tenaga kerja berpengalaman yang sebagian besar berasal dari warga sekitar serta dibantu juga oleh tenaga dari luar daerah. Ia pun membuktikan bahwa siapa pun berhak meraih kesuksesan asalkan mau bekerja dan berusaha. Namun bekerja keras saja tidak cukup. Perlu adanya sikap konsisten. Terbukti dari konsistensi ini ia dapat mempertahankan eksistensi usahanya selama lebih dari dua dekade.