Dari latar belakang orangtua yang memiliki usaha garmen, kemudian lingkup pertemanan yang lekat dengan identitas anak muda yang freedom dalam bermusik, beriringan penyampaian jati diri mereka dalam berpenampilan. Putu Signa Tias Saputra kerap disapa Pablo mantap untuk memasarkan bisnis konfeksinya, kendati belum memiliki clue nama yang akan disandang. Pertama kali mengambil project, ia yang sudah terkoneksi dengan jasa penjahit dan sablon, masih mengoper bahan kain, karena masih bekerja secara ‘solo’. Salah satu customer yang melihat kondisi usahanya, sempat meragukan. Dalam upaya pembelaan, ia menyatakan yang penting hasil akhirnya, tidak mangkir dari ketepatan waktu dan bila ada kerusakan, ia bersedia mengganti.

Setelah mengambil sekian project, yang awalnya masih berdasarkan rekomendasi teman, barulah pria kelahiran Singaraja, 31 Juli 1993 ini, resmi mencantumkan nama “Bintang Konfeksi”. Dari trennya berjualan online di Blackberry Messanger (BBM), Pablo kemudian merambah ke platform media sosial lainnya yang semakin merebak, seperti Instagram, yang membantu bisnisnya kian mudah dikenal oleh kaum komunal lainnya.
Dengan masifnya kehadiran bisnis ini, tak membuat Pablo berkecil hati, apalagi sampai undur diri. Ia buktikan di tahun 2015, mulai membeli mesin, perlengkapan lainnya, mempekerjakan beberapa karyawan dan yang tak kalah menantang ialah menjadi leader, bukan bos dalam manajemen bisnisnya. Terlebih menghadapi dua tahun terberat pandemi, di tengah para pemiliki bisnis ini memilih recycle, ia bersyukur mampu melalui masa-masa itu dengan tetap eksis sampai saat ini dan sudah menerima orderan 60%-80%. yang datang dari Bali, maupun luar Bali. Juga dipercaya oleh instansi pemerintah, hingga membuka peluang usaha bagi para reseller. Intinya segala penjuru orderan, Pablo siap ladeni.
Produk yang sudah direlease “Bintang Konfeksi” meliputi kaos, jaket, topi, polo shirt, namun tak menutup kemungkinan juga, menerima orderan selain produk tersebut. Jumlah pemesanan pun terpantau sudah tak lagi berpatokan minimal satu lusin. Di zaman teknologi semakin maju, bisnis konfeksi pun semakin fleksibel menerima orderan retail, dengan terciptanya mesin sablon satuan. Menyimak perkembangannya tersebut, bagi Tias wajib follow up dan mengadaptasikan ke “Bintang Konfeksi”.
Bagi yang ingin memulai bisnis clothing line, terutama antusias yang datang dari anak muda, “Binatang Konfeksi” siap melayani. Untuk yang belum bisa mendesain, lewat jasa desainnya dari kandidat karyawannya sendiri, Pablo terbuka menerima ide-ide segar yang siap dituangkan dalam media pilihan mereka. Bila usaha mereka lancar, tentu akan berimbas pada bisnis “Bintang Konfeksi” sendiri, yang diharapkan akan menjadi mitra bisnis yang berkelanjutan.
Dalam pengerjaan, Pablo memasang waktu yang standar, yakni selama dua minggu, dengan jumlah maksimal ratusan produk. Namun, sebelum menerima orderan, ia biasanya melakukan meeting terlebih dahulu dengan para karyawan, untuk mengetahui kesanggupan dalam memproduksi. Bila mereka kewalahan, Pablo juga bisa menempuh jalan perekrutan freelance khusus untuk shift malam.
Pasca pandemi, fashion lokal tengah diramaikan tren kaos oversized. Yang tak kalah menarik perhatian para wanita pun gemar memakai kaos tersebut, tentunya fenomena ini membawa keuntungan bagi “Bintang Konfeksi” sebagai bagian dari instrumen bisnis komoditas tekstil. Ia pun optimis teknologi industri ini akan terus berkembang dan mode fashion juga terus berputar. Didukung dengan tetap bersaing secara sehat, saling membantu rekan-rekan yang baru memulai bisnisnya atau kenapa tidak, memotivasi dan berbagi pengalaman kepada para karyawan untuk mengambil peluang wirausaha di bisnis yang sama, alhasil membuat jaringan bisnis ini semakin kuat, hadapi berbagai tantangan ekonomi, di masa mendatang.