Pada kenyataannya pandemi COVID-19, tak hanya melawan virus. Terlebih, bagi lembaga ekonomi kearifan lokal seperti koperasi yang berlokasi di kawasan pariwisata, “Koperasi Serba Usaha (KSU) Wredhi Dana Manik Mas”. Juga harus berupaya menjaga pelayanan yang berkeadilan, namun di sisi lain juga menjaga likuiditas koperasi, memang tidaklah mudah.
I Ketut Sukayasa, Ketua KSU Wredhi Dana Manik Mas, tak mampu berdalih dengan kondisi para anggota yang mayoritas pekerja pariwisata terimbas peliknya krisis ekonomi. Yang terberat saat di tahun 2020-2021, koperasi sempat ada di posisi minus. Per-Desember 2020 rasio Non Perfoming Loan (NPL) masih 25%, yang jauh dari kondisi sehat koperasi di persentase 5%. Di atas Desember 2021, mulai menunjukkan perubahan yang lebih baik, dengan NPL 10%, likuiditas sudah mulai mampu dipenuhi dan melayani anggota, didukung juga bantalan pendanaan oleh stakeholder dari bank umum, seperti BRI (Bank Rakyat Indonesia), Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Mandiri dan Pemerintah Kabupaten Badung.
Pra-Rapat Anggota Tahunan (RAT) Januari 2022 atau tri wulan keempat yang membahas tentang evaluasi dan rencana kerja selanjutnya, mendapatkan antusias positif dari masyarakat. Disambut dengan pariwisata yang bisa dikatakan sudah berjalan normal dan para anggota mulai bekerja kembali. Dalam rapat tersebut, pria kelahiran Ungasan, 6 November 1972 ini, kembali tak pernah bosan mengajak para anggota yang kini berjumlah 1.348 orang, untuk menumbuhkan semangat memiliki daripada ke KSU Wredhi Dana Manik Mas, agar koperasi terus bertumbuh. Mereka mau memanfaatkan layanan dan produk-produk koperasi yang telah disosialisasikan seperti tabungan, deposito, kredit dari yang manual hingga berbasis digital.
Di masa pasca-pandemi ini, bagi I Ketut Sukayasa, belum bisa seagresif sebelum 2019. Apalagi adanya isu soal resesi, membuatnya sebagai ketua lebih menganalisis dalam mengambil keputusan dan menyeleksi calon kreditur yang mengutamakan para pemiliki UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dengan nominal di bawah Rp 50 juta dan batas penarikan minimal Rp 5 juta. Dalam hal ini, tim koperasi berupaya memberikan pembinaan dan pemahaman kepada anggota atas kebijakan ini, dalam menyikapi situasi ekonomi yang masih dirundung ketidakpastian global dan menyelesaikan beberapa kredit yang masih bermasalah. Namun tak menutup kemungkinan, koperasi bisa menorehkan prestasi kembali, seperti di tahun 2019, saat NPL di rasio 5%, mampu mendapatkan laba sampai Rp 2,5 miliar dan membagi SHU sebesar Rp 500 ribuan kepada masing-masing anggota. Berkat peran dan kepercayaan anggota serta pengelolaan berlandaskan budaya kerja CIPITT (Costumer, Integrity, Profesionalisme, Team Work, dan Trust), di RAT Buku 2022, aset koperasi telah tumbuh menjadi Rp 65 miliar dan meraih SHU Rp 401 juta.
Kebanggaan KSU Wredhi Dana Manik Mas, kini tengah mempersiapkan bangunan operasional koperasi yang baru, dengan harapan kepercayaan masyarakat Kuta Selatan khususnya, semakin meningkat dan prestisius, relevansi dengan pertumbuhan jumlah anggota setiap tahunnya. Disamping SHU (Sisa Hasil Usaha) yang wajib dibagikan kepada anggota setiap akhir tahun, kemudian kontribusi meliputi dana santunan duka, dana sosial, sebagai tujuan dari pendirian koperasi, tak hanya profit tapi juga sosial oriented.

Sesuai dengan misi “Menjadi Koperasi yang Mandiri dengan Mengkedepankan Pelayanan Terbaik di dalam Membangun dan Mengkedepankan Potensi Ekonomi Kerakyatan”. KSU Wredhi Dana Manik Mas melaksanakan kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-12, Minggu 12/02/2023 di Kantor Koperasi lantai III. Dalam kegiatan ini dilaksanakan juga pengukuhan pengurus dan pengawas masa bhakti 2022-2027. Diharapkan bisa terus berupaya memaksimalkan pelayanan dan membangun sinergitas dengan anggota, sehingga koperasi bisa bertumbuh positif di tahun ini,” harapnya.
Untuk ke arah digitalisasi, diakui I Ketut Sukayasa, belum bisa secara utuh mengadopsinya ke KSU Wredhi Dana Manik Mas. Butuh koordinasi dengan para anggota dan modal tambahan dalam pengaplikasiannya. Cepat atau lambat harus mengikuti transformasi digitalisasi, tapi butuh proses waktu dan dukungan dari anggota, juga tak kalah krusial, pemerintah setempat.