Sebelum tren usaha arsitektur lanskap booming seperti di masa kini, pria bernama I Nyoman Miyoga ini sudah terlebih dahulu terjun ke industri tersebut. Jeli membaca peluang usaha desainer taman atau landscape architect (arsitek lanskap), pria asli Ubud ini sukses menggaet klien dari kalangan pengelola hotel maupun villa baik dalam negeri maupun mancanegara.
I Nyoman Miyoga telah mengawali kariernya sejak masih duduk di bangku kuliah yaitu di tahun 80-an. Awalnya profesi sebagai arsitek lanskap hanya dijadikan sebagai pekerjaan paruh waktu saja. Menggabungkan kreativitas dan pengetahuan di bidang tanaman, Pria kelahiran Ubud, 17 November 1964 ini mampu menyulap sebidang lahan menjadi taman yang bernilai estetika tinggi. Pada waktu tidak sedikit yang memandang sebelah mata, bagaimana tidak, seorang pria berstatus mahasiswa di kampus ternama justru hanya berkarir sebagai “tukang kebun”. Padahal melalui pekerjaan ini ia menghasilkan pendapatan yang cukup besar untuk seukuran orang yang belum bertitel sarjana.
Setamat kuliah, Nyoman Miyoga mencari pengalaman kerja pada salah satu ahli lanskap dan budayawan yang karya-karyanya telah mendunia bernama Michael White. Pria tersebut merupakan Warga Negara asal Australia yang mendedikasikan dirinya untuk merangkum kebudayaan Bali lewat sejumlah judul buku dan karya-karya desain rancangannya, dan pria tersebut lebih dikenal dengan nama Made Wijaya. Pengetahuan Nyoman Miyoga juga bertambah, tidak hanya sebatas pada bidang desain lanskap saja. Melainkan juga pada arsitektur dan interior.
Karier Nyoman Miyoga kian melesat sejalan dengan perkembangan industri pariwisata di era 90-an, terlebih kompetitor usaha di bidang ini masih sangat sedikit. Saat itu mata internasional tengah tertuju pada Pulau Dewata, di mana kemudian Bali mulai dijadikan sebagai barometer desain arsitektur dan lanskap dunia. Hal itu pula membuat para arsitek lokal kian mendapat atensi, demikian yang dirasakan Nyoman Miyoga. Klien-kliennya didominasi dari Negara Singapura, Malaysia, Vietnam, dan India banyak yang meminta dibuatkan desain taman ala resort yang bertumbuh di Bali.
Ciri Khas Natural dan Local Friendly
Setelah Made Wijaya meninggal dunia pada tahun 2016, akhirnya Nyoman Miyoga memutuskan untuk melanjutkan gaya “Wijaya Style” dengan mengembangkan perusahaan PT Ramawijaya International Design. Seiring perjalanan usaha ia tidak hanya tidak hanya menyediakan jasa desain lanskap saja juga merambah ke desain master plan, desain arsitektur bangunan dan desain interior.
Nyoman Miyoga membawa visi mengangkat dan memperkenalkan kearifan lokal Bali lewat karya-karyanya. Hal ini terlihat dari salah satu ciri khas desainnya yaitu memanfaatkan bahan material lokal dan alami. Pemakaian bahan baku alami sudah menjadi tradisi yang dilakukan para leluhur di Bali. Selain sebagai bentuk menjaga keberlanjutan lingkungan, pemakaian bahan alami dan bersifat lokal juga dinilai efisien dari segi biaya.
Seiring berjalannya waktu, permintaan jasa desain lanskap yang bergaya alami dari market lokal mulai meningkat. Nyoman Miyoga pun cekatan merespons peluang market ini dan menerima banyak permintaan desain lanskap untuk villa maupun hotel di Bali. Karya-karyanya yang lain juga menembus pasar luar daerah seperti di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, Sumatera, dan Kalimantan. Suami dari Ni Ketut Gelgel Ariani tersebut juga pernah mengerjakan permintaan klien di India, Vietnam, Singapura, Malaysia, Fiji, dan lain-lain. Biasanya karya yang dibuat untuk pasar luar negeri tetap mengusung akar rumput setempat namun dengan sedikit sentuhan gaya natural seperti yang diterapkan pada desain-desainnya bertema budaya Bali.
Potret karya Nyoman Muyoga juga kerap menghiasi majalah-majalah arsitek dan lanskap. Pria lulusan Seni Rupa dan Desain, Universitas Udayana dan lulusan Profesi Insinyur yang konsentrasi di Pertamanan, Pascasarjana, Universitas Udayana, serta lulusan Magister Manajemen di Pascasarjana, Universitas Terbuka, ini juga beberapa kali membagikan pengalaman kreatifnya sebagai arsitek dan landscaper dalam acara talkshow dan dosen tamu. Salah satu hotel yang ia desain yaitu Dwaraka Villa berhasil meraih penghargaan sebagai Luxury Boutiqe Hotel dan Luxury Cultural Hotel Regional Winner Southern Asia di tahun 2017, serta perhargaan untuk Bidadari Villas and Retreat Ubud untuk kategori The Hotel Industry’s Only International Five-Star Status Award Revealed di Asia Pasific Hotel Awards in Association with Rolls-Royce Motor Cars, serta PT. Ramawijaya International Design mendapat penghargaan dari Yayasan Penghargaan Prestasi Indonesia “Platinum Business Award 2021” by Achievement Magazine.
Di masa pandemi, Nyoman Miyoga masih aktif berkarya. Beberapa proyek yang ia tangani masih bergeliat, khususnya untuk pasar luar negeri. Salah satu strateginya untuk masih tetap berkiprah di masa pandemi adalah menjaga pola pikir positif. Di luar kesibukan sebagai arsitek, ia menekuni kegiatan meditasi kesehatan Bali Usada sebagai langkah menjaga kesehatan mental. Ia yakin kesehatan mental ikut mempengaruhi kesehatan fisik sehingga keduanya perlu diseimbangkan.
Dan untuk membagikan ilmu dan perjalanannya selama 30 tahun lebih di dunia lanskap, saat ini Nyoman Miyoga sedang menyusun Buku berjudul “Taman Tropikal untuk Hospitality” sehingga arsitek, desainer muda, dan hotelier lebih memahami tentang pentingnya lanskap untuk bangunan hospitality.